Cukup memalukan sebenarnya ketika saya tidak tahu menahu tentang kota
Semarang yang sudah saya tinggali hampir separo abad. Terlebih ketika
seorang sepupu minta dibelikan Batik Semarang dengan motif Tugu Muda.
Lawang Sewu, Wewe Gombel (nama jalan rumah masa kecil sepupu saya dan
orang tua saya yang saya tempati saat ini), tapi dengan gagah berani
saya mengatakan, tidak ada Batik Semarang dan segala motif yang
disebutkan itu.
Batik Semarang baru dihidupkan kembali tahun 2005 oleh pemerintah
Kota Semarang setelah sentra-sentra Batik Semarang tersebut
diporak-porandakan 2 kali yaitu oleh Pemerintah Belanda saat pendudukan
tentara Jepang (1942-1945) dan oleh tentara Jepang saat Pertempuran Lima
Hari di Semarang.
Kampung Batik Semarang, terletak di Bundaran pasar Bubakan, di belakang Hotel Jelita di Jl. Patimura, Semarang


Walau telah diluluh lantakkan oleh tentara Jepang, kejayaan Batik Semarang masih bertahan hingga tahun 1970.
Adalah
Tan Kong Tien, seorang putera tuan tanah (Tan Siauw Liem)
yang juga menantu Sri Sultan Hamengkubuwono III. Setelah menikah dengan
RA. Dinartiningsih, Tan Kiong Tien mewarisi keahlian membatik dari
istrinya yang kemudian ia kembangkan. Perusahaannya bernama
Batikkerij Tan Kong Tin, mendapatkan hak monopoli
batik untuk wilayah Jawa Tengah. Perusahaannya ini diteruskan oleh putrinya : R. Ng, Sri Murdijanti hingga tahun 1970.
Dari dokumen pemerintah Kolonial Belanda, tahun 1919-1925 sentra
batik di kota Semarang sangat berkembang. Hal ini dikarenakan terjadi
krisis yang menyebabkan sulitnya mendapatkan bahan sandang. Akibatnya
masyarakat memenuhi kebutuhan sandangnya sendiri dengan membuat pakaian
sendiri.
Perajin Batik Semarang tidak pernah membakukan motif, seperti
halnya perajin-perajin batik di kota Solo, Jogja atau Pekalongan.
Sebagai masyarakat pesisir Utara Jawa, mereka umumnya membatik dengan
motif naturalis : seperti binatang, alam, rumah dlsb. Hal ini berbeda
dengan batik Solo dan Jogja yang mempunyai pakem dari Kraton.
Produk yang dihasilkan adalah kain kebaya (jarit), selendang dasi
dan topi. Dan saat itu belum dikenal adanya teknik cap dan printing.
Pengembangan sentra batik Semarang menjadi produk batik masih
mengalami kendala. Menurut Mas Ferry, salah satu pengusaha Batik, hal
ini dikarenakan biaya tenaga produksi di Semarang jauh lebih mahal di
banding kota lain. Sebagai perbandingan saja, tenaga jahit di kota
Pekalongan atau Solo bisa Rp. 2.000 sedangkan di Semarang jauh dari
angka itu. Untuk itulah penjahitan produk masal masih di lempar di
kota-kota tersebut.
Upaya membangkitkan kejayaan batik Semarang telah dimulai tahun
2005, dipelopori oleh Pemerintah Kota Semarang saat itu. Walaupun tidak
ditemukan generasi perajin batik asli dari kampung Batik, namun
Pelatihan – pelatihan telah banyak diadakan. Tapi gregetnya hingga
sekarang belum sehebat gaung batik-batik di kota lainnya.
Dan masih banyak lagi motif-motif yang dikembangkan dengan ciri khas
Semarang, seperti misalnya: Mesjid Agung, nama-nama jalan dengan
kekhasannya: Jl. Srondol (yang dilambangkan dengan Blekok karena di
sepanjang jalan tersebut banyak Blekok putih nangkring di pohon),
Bandeng – Lumpia (makanan khas), Vihara (Jl, Watugong), Merak (nama
jalan) dan masih banyak lagi.
Harga untuk batik-batik tersebut berkisar antara Rp. 50.000 – Rp.
250.000 untuk jenis printing (harganya hampir sama dengan batik cap).
Sedangkan untuk batik tulis mulai Rp. 250.000 – > Rp. 600.000.